Krisis keuangan Asia yang melanda pada Juli 1997 menghantam Indonesia dengan sangat keras. Rupiah anjlok drastis dari Rp 2.400 menjadi lebih dari Rp 16.000 per dolar Amerika. Enam belas bank swasta dilikuidasi dalam sekejap. Jutaan pekerja di-PHK tanpa pesangon yang layak. Harga kebutuhan pokok melonjak hingga ratusan persen, memicu kepanikan pembelian sembako di seluruh kota besar. Kepercayaan rakyat pada pemerintah mulai runtuh.
"Krisis moneter bukan hanya soal ekonomi โ ini adalah krisis kepercayaan total terhadap rezim Orde Baru."
Selama 32 tahun, Presiden Soeharto memimpin Indonesia dengan tangan besi melalui sistem Orde Baru yang represif. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) merajalela di semua lini pemerintahan. Kehidupan politik sangat terkontrol, kebebasan pers dibungkam dengan ketat, dan setiap bentuk oposisi disingkirkan dengan cara-cara yang sistematis. Pada 1 Mei 1998, di tengah krisis yang memuncak, Soeharto justru menyatakan bahwa reformasi politik baru bisa dimulai pada tahun 2003 โ pernyataan yang membuat rakyat semakin tidak sabar dan marah.
Di bawah rezim Orde Baru, diskriminasi terhadap etnis Tionghoa sudah berlangsung secara sistemik selama puluhan tahun. Ketika krisis ekonomi meledak, etnis Tionghoa dengan mudah dijadikan kambing hitam. Propaganda palsu menyebar luas, menuduh mereka sebagai dalang di balik krisis moneter. Kebencian rasial yang sudah lama menumpuk akhirnya menemukan momentumnya untuk meledak dalam bentuk kekerasan massal yang mengerikan. Kombinasi antara krisis ekonomi, politik yang represif, dan sentimen rasial yang mengakar inilah yang menjadi bahan bakar sempurna bagi tragedi Mei 1998.